Sabtu, 31 Oktober 2020

Koneksi Antar Materi (Kesimpulan dan Refleksi)

 


Ki Hadjar Dewantara, yang bernama asli Swardi Suryaningrat, bukan lah sosok asing bagi kita bangsa Indonesia. Hari lahir beliau tanggal 2 Mei setiap tahun kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Konsep pemikiran beliau tentang pendidikan menjadi tonggak awal pergerakan pendidikan di Indonesia. Seperti yang kita tahu, pendidikan pada masa penjajahan Belanda begitu sulit untuk didapatkan. Hanya segelintir orang saja yang beruntung bisa mengenyam Pendidikan di sekolah. Ilmu yang diberikan pun hanya terbatas pada pengetahuan tentang ekonomi. Tujuannya tentu saja untuk menguntungkan perekonomian Belanda saat itu.

Untuk menjawab permasalahan ini, Tahun 1922, KHD mendirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa). Ini menjadi awal pendidikan boleh didapatkan siapa saja. Berbagai ilmu pengetahuan diberikan.

Trilogi Pendidikan Taman Siswa merupakan buah pikiran Sang Legenda, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan). Trilogi Pendidikan ini juga bukan sesuatu yang asing bagi pendidik di Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu nilai-nilai yang terkandung dalam trilogi Pendidikan ini mulai terabaikan. Memberi bimbingan dan dorongan mungkin lebih sering kita lakukan daripada memberi teladan. Padahal ini merupakan sesuatu yang penting dalam pembentukan karakter anak. Budi pekerti yang ingin diajarkan kepada anak hendaknya juga ada pada diri kita terlebih dahulu. Kodrat alam anak meniru yang dia lihat.

Proses tringa (ngerti, ngrasa, nglakoni) selaras dengan trilogi cipta, rasa, karsa. Cipta berhubungan dengan olah pikir, logika. Rasa berhubungan dengan emosi, kepribadian, moralitas. Karsa berhubungan dengan motivasi dari dalam diri. Jadi, pengajaran tidak hanya bersifat pengetahuan atau kognitif saja, namun juga meliputi sikap atau afektif dan kemampuan atau keterampilan yang juga dikenal dengan istilah psikomotor. Perlu diingat bahwa budi pekerti juga penting di samping intelektualitas. Sebab Pendidikan yang hanya berfokus pada intelektualitas hanya akan melahirkan seorang pemimpi. Jika hanya berfokus pada rasa maka akan melahirkan seseorang yang baperan (istilah anak jaman sekarang). Dan jika hanya berfokus pada karsa dan karya maka akan melahirkan seorang yang mudah diperalat oleh orang lain. Maka intelektualitas juga harus seimbang dengan budi pekerti dan keterampilan.

Trilogi cipta, rasa, karsa memang sudah lama diterapkan dalam penilaian yang mencakup kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun, pada penerapannya seringkali kognitif menjadi acuan utama. Intelektualitas menjadi dasar penghargaan pada anak.

Azas Perguruan Taman Siswa adalah Metode Among. Among, momong, bermakna ‘emban’, ‘mengemban’. Guru layaknya seperti pengasuh yang membimbing anak dengan ikhlas sesuai bakat dan minatnya. Sistem among berazaskan kekeluargaan (asah, asih, asuh). Pernah suatu kali saya mendapati salah seorang siswa perempuan di kelas X sering kali membuat onar di mata pelajaran saya. Nilai tugas dan ujian di mata pelajaran saya memang tidak mengecewakan. Namun acap kali sang anak memantik emosi saya. Saya tekankan padanya bahwa sekolah bukan rumah, bermanja pada orang tua, tidak guru. Padahal konsep sistem Among adalah membawa kehangatan kekeluargaan dalam kegiatan belajar mengajar. Dan ternyata di kemudian hari saya ketahui saat saya dalam tugas belajar. Guru pengganti untuk mata pelajaran saya bercerita bahwa anak tersebut menyukai saya dan sangat senang dengan pembelajaran saya. Yang ia lakukan selama ini adalah cara dia untuk menarik perhatian saya. Sayangnya saya masih dalam tugas belajar hingga saat ia menyelesaikan sekolahnya.

Guru, di Perguruan Nasional Taman Siswa disebut pamong, mencermati garis kodrat anak agar jiwanya merdeka lahir batin. Dalam Metode Among pengajaran berarti mendidik anak untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka fikirannya dan merdeka tenaganya. Makna merdeka bukan hanya berarti lepas dari penindasan dan penjajahan. Merdeka di sini lebih diartikan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain.

Namun yang saya lakukan pada pembelajaran saya sebelumnya tidak seperti itu. Sering kali saya memaksakan kehendak pada anak, tidak percaya pada kemampuannya, sehingga tak jarang malah membuat anak tak mandiri.

Pelaksanaan Sistem Among bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Salah satu sifat kodrat anak adalah suka bermain (kinder spellen). Maka proses pembelajaran di kelas hendaknya juga memuat kegiatan yang bersifat permainan atau juga bisa berbentuk simulasi. Di sini saya menyadari kekeliruan yang dilakukan selama ini. Jarang sekali melibatkan kegiatan yang mengakomodir sifat kinder spellen anak.

Kemerdekaan adalah tujuan utama sistem Among. Anak mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri. Konsep kemerdekaan anak menurut KHD bukan merdeka yang mutlak tanpa batasan. Tapi merdeka yang tetap mengingat syarat tertib damainya dalam bermasyarakat (orde en vrede)

Pemikiran KHD lainnya adalah Tripusat Pendidikan, yakni: Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketiganya ini sangat berperan dalam hidup dan tumbuhnya siswa. Di lingkungan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama pada pembinaan watak dasar seorang siswa. Di lingkungan keluarga, anak hendaknya pendidikan yang penuh kasih tulus tanpa pamrih dari orang tua. Lingkungan sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga. Secara formal orang tua siswa menitipkan anaknya ke sekolah sebagai tempat untuk belajar ilmu dan adab. Lingkungan masyarakat merupakan tempat anak mendapatkan pendidikan  dengan learning by doing. Pergaulan di masyarakat memberi dampak yang besar bagi pembentukan watak anak. Maka hendaknya anak lebih didekatkan pada pergaulan yang positif dan dijauhkan dari kontaminasi pergaulan yang negatif.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah keluarga dan masyarakat sering kali menyalahkan sekolah saat anak berbuat salah. Padahal ketiganya memiliki tanggung jawab yang sama dalam Pendidikan anak. Masyarakat tak boleh abai saat melihat anak berbuat tak patut. Sekolah adalah tempat orang tua menitipkan anak untuk mendapatkan ilmu dan adab. Untuk itu, selayaknya keluarga juga mendukung kebijakan sekolah untuk kebaikan sang anak. Tidak melakukan hal yang terkesan membela anak padahal hakikatnya malah memberi contoh tak baik pada proses pembentukan watak anak.

Pemikiran KHD tentang pendidikan dalam hubungannya dengan budaya adalah konsep tri-kon yakni kontinuitas, konvergensitas dan konsentrisitas. Konsep kontinuitas adalah tentang pentingnya kesinambungan dalam usaha dan proses perubahan dan pengembangan pendidikan. Dalam hal ini kita harus dapat mengolah budaya bangsa secara berkesinambungan dari masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang. Konsep konvergensitas berkaitan dengan pemahaman bahwa kita tidak menutup diri terhadap dunia luar. Gagasan atau nilai budaya yang berbeda dari luar memang bisa saja saling melengkapi dengan budaya bangsa kita, namun bisa juga saling berlawanan. Maka untuk dapat memilah manfaat positif dan meminimalisir sisi negatif dari budaya luar, perlu adanya penguatan nilai-nilai lokalitas budaya bangsa. Konsep konsentrisitas berkaitan tentang pentingnya mempertahankan dan berpegang teguh pada budaya sendiri untuk memperkuat kepribadian nasional.

 Selama ini kegiatan yang bertujuan memperkuat budaya daerah memang dilakukan. namun hanya untuk momen-momen tertentu. Selayaknya kegiatan seperti ini dilakukan lebih teratur dalam wadah kegiatan mingguan.

Beberapa hal yang sebelumnya yang juga biasa saya lakukan ternyata berlawanan dengan konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Di antaranya:

1.    Sebelumnya saya menganggap bahwa anak adalah kertas putih bersih yang belum ada coretan apapun, Ki Hadjar Dewantara berpendapat lain. Menurut pemikiran beliau, anak itu seperti kertas yang telah memiliki pola masing-masing. Ada yang positif dan negatif. Hanya saja pola-pola tersebut masih samar. Tugas pendidik adalah menuntun untuk memperjelas nilai-nilai positif dan mengaburkan nilai-nilai negatif yang ada pada anak.

2.    Pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang berarti hanya tuntunan, menegaskan bahwa pendidik tidak punya kuasa untuk menjadikan anak sesuai dengan apa yang diinginkan pendidik. Padahal yang sering kali kita lakukan adalah memaksa anak untuk mengikuti yang kita mau.

3.    Kita, kaum pendidik, juga sering kali menekankan agar anak menguasai mata pelajaran yang kita ampu. Padahal masing-masing anak memiliki potensi dan bakat yang beragam. Yang seharusnya kita lakukan adalah menuntun anak untuk mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki.

Maka sangat penting bagi pendidik untuk mengubah paradigma salah yang telah dilakukan selama ini. Untuk berubah memang tidak mudah. Namun, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Dengan motivasi kuat untuk transformasi pendidikan kepada yang lebih baik, kita akan punya kekuatan untuk merubah.


Link video: https://youtu.be/reA3KwITZnE

2 komentar:

  1. Beruntung saya dapat membaca Blog Bu Yenny; tulisan dan alur pemikirannya layak untuk diikuti oleh para guru terutama untuk guru yang bersemangat untuk menulis. Gaya bertutur yang sangat baik membuat "pemirsa" bisa duduk menyimak dengan baik dan mendapatkan kontennya tanpa memerlukan energi yang banyak; karena gaya yang dibawakan menyampaikan dengan "mendongengkan"; enak untuk dinikmati

    Selamat! Terus berkarya, Tebarkanlah semangat Guru Penggerak...


    RUKMANA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Pak. Saya menjadi semakin termotivasi untuk menulis.

      Hapus