Ki Hadjar
Dewantara, yang bernama asli Swardi Suryaningrat, bukan lah sosok asing bagi
kita bangsa Indonesia. Hari lahir beliau tanggal 2 Mei setiap tahun kita
peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Konsep pemikiran beliau
tentang pendidikan menjadi tonggak awal pergerakan pendidikan di Indonesia.
Seperti yang kita tahu, pendidikan pada masa penjajahan Belanda begitu sulit
untuk didapatkan. Hanya segelintir orang saja yang beruntung bisa mengenyam
Pendidikan di sekolah. Ilmu yang diberikan pun hanya terbatas pada pengetahuan
tentang ekonomi. Tujuannya tentu saja untuk menguntungkan perekonomian Belanda
saat itu.
Untuk
menjawab permasalahan ini, Tahun 1922, KHD mendirikan National Onderwijs
Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa). Ini menjadi awal
pendidikan boleh didapatkan siapa saja. Berbagai ilmu pengetahuan diberikan.
Trilogi
Pendidikan Taman Siswa merupakan buah pikiran Sang Legenda, Ing Ngarso Sung
Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani (di depan memberi contoh,
di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan). Trilogi Pendidikan
ini juga bukan sesuatu yang asing bagi pendidik di Indonesia. Namun, seiring
berjalannya waktu nilai-nilai yang terkandung dalam trilogi Pendidikan ini
mulai terabaikan. Memberi bimbingan dan dorongan mungkin lebih sering kita
lakukan daripada memberi teladan. Padahal ini merupakan sesuatu yang penting
dalam pembentukan karakter anak. Budi pekerti yang ingin diajarkan kepada anak
hendaknya juga ada pada diri kita terlebih dahulu. Kodrat alam anak meniru yang
dia lihat.
Proses
tringa (ngerti, ngrasa, nglakoni) selaras dengan trilogi cipta, rasa,
karsa. Cipta berhubungan dengan olah pikir, logika. Rasa
berhubungan dengan emosi, kepribadian, moralitas. Karsa berhubungan
dengan motivasi dari dalam diri. Jadi, pengajaran tidak hanya bersifat
pengetahuan atau kognitif saja, namun juga meliputi sikap atau afektif dan
kemampuan atau keterampilan yang juga dikenal dengan istilah psikomotor. Perlu
diingat bahwa budi pekerti juga penting di samping intelektualitas. Sebab
Pendidikan yang hanya berfokus pada intelektualitas hanya akan melahirkan
seorang pemimpi. Jika hanya berfokus pada rasa maka akan melahirkan seseorang
yang baperan (istilah anak jaman sekarang). Dan jika hanya berfokus pada
karsa dan karya maka akan melahirkan seorang yang mudah diperalat oleh orang
lain. Maka intelektualitas juga harus seimbang dengan budi pekerti dan
keterampilan.
Trilogi
cipta, rasa, karsa memang sudah lama diterapkan dalam penilaian yang mencakup
kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun, pada penerapannya seringkali
kognitif menjadi acuan utama. Intelektualitas menjadi dasar penghargaan pada
anak.
Azas
Perguruan Taman Siswa adalah Metode Among. Among, momong, bermakna
‘emban’, ‘mengemban’. Guru layaknya seperti pengasuh yang membimbing anak
dengan ikhlas sesuai bakat dan minatnya. Sistem among berazaskan kekeluargaan
(asah, asih, asuh). Pernah suatu kali saya mendapati salah seorang siswa perempuan
di kelas X sering kali membuat onar di mata pelajaran saya. Nilai tugas dan
ujian di mata pelajaran saya memang tidak mengecewakan. Namun acap kali sang
anak memantik emosi saya. Saya tekankan padanya bahwa sekolah bukan rumah,
bermanja pada orang tua, tidak guru. Padahal konsep sistem Among adalah membawa
kehangatan kekeluargaan dalam kegiatan belajar mengajar. Dan ternyata di
kemudian hari saya ketahui saat saya dalam tugas belajar. Guru pengganti untuk
mata pelajaran saya bercerita bahwa anak tersebut menyukai saya dan sangat
senang dengan pembelajaran saya. Yang ia lakukan selama ini adalah cara dia
untuk menarik perhatian saya. Sayangnya saya masih dalam tugas belajar hingga
saat ia menyelesaikan sekolahnya.
Guru, di
Perguruan Nasional Taman Siswa disebut pamong, mencermati garis kodrat anak
agar jiwanya merdeka lahir batin. Dalam Metode Among pengajaran berarti
mendidik anak untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka fikirannya
dan merdeka tenaganya. Makna merdeka bukan hanya berarti lepas dari penindasan
dan penjajahan. Merdeka di sini lebih diartikan dapat berdiri sendiri, tidak
bergantung pada orang lain.
Namun
yang saya lakukan pada pembelajaran saya sebelumnya tidak seperti itu. Sering
kali saya memaksakan kehendak pada anak, tidak percaya pada kemampuannya,
sehingga tak jarang malah membuat anak tak mandiri.
Pelaksanaan
Sistem Among bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Salah satu sifat kodrat
anak adalah suka bermain (kinder spellen). Maka proses pembelajaran di
kelas hendaknya juga memuat kegiatan yang bersifat permainan atau juga bisa
berbentuk simulasi. Di sini saya menyadari kekeliruan yang dilakukan selama
ini. Jarang sekali melibatkan kegiatan yang mengakomodir sifat kinder
spellen anak.
Kemerdekaan
adalah tujuan utama sistem Among. Anak mempunyai hak untuk mengatur dirinya
sendiri. Konsep kemerdekaan anak menurut KHD bukan merdeka yang mutlak tanpa
batasan. Tapi merdeka yang tetap mengingat syarat tertib damainya dalam
bermasyarakat (orde en vrede)
Pemikiran
KHD lainnya adalah Tripusat Pendidikan, yakni: Lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketiganya ini sangat berperan dalam hidup
dan tumbuhnya siswa. Di lingkungan keluarga merupakan pendidikan yang pertama
dan utama pada pembinaan watak dasar seorang siswa. Di lingkungan keluarga,
anak hendaknya pendidikan yang penuh kasih tulus tanpa pamrih dari orang tua.
Lingkungan sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga.
Secara formal orang tua siswa menitipkan anaknya ke sekolah sebagai tempat
untuk belajar ilmu dan adab. Lingkungan masyarakat merupakan tempat anak
mendapatkan pendidikan dengan learning
by doing. Pergaulan di masyarakat memberi dampak yang besar bagi
pembentukan watak anak. Maka hendaknya anak lebih didekatkan pada pergaulan
yang positif dan dijauhkan dari kontaminasi pergaulan yang negatif.
Fenomena
yang terjadi saat ini adalah keluarga dan masyarakat sering kali menyalahkan
sekolah saat anak berbuat salah. Padahal ketiganya memiliki tanggung jawab yang
sama dalam Pendidikan anak. Masyarakat tak boleh abai saat melihat anak berbuat
tak patut. Sekolah adalah tempat orang tua menitipkan anak untuk mendapatkan
ilmu dan adab. Untuk itu, selayaknya keluarga juga mendukung kebijakan sekolah untuk
kebaikan sang anak. Tidak melakukan hal yang terkesan membela anak padahal
hakikatnya malah memberi contoh tak baik pada proses pembentukan watak anak.
Pemikiran
KHD tentang pendidikan dalam hubungannya dengan budaya adalah konsep tri-kon
yakni kontinuitas, konvergensitas dan konsentrisitas. Konsep kontinuitas adalah
tentang pentingnya kesinambungan dalam usaha dan proses perubahan dan
pengembangan pendidikan. Dalam hal ini kita harus dapat mengolah budaya bangsa
secara berkesinambungan dari masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang.
Konsep konvergensitas berkaitan dengan pemahaman bahwa kita tidak menutup diri
terhadap dunia luar. Gagasan atau nilai budaya yang berbeda dari luar memang
bisa saja saling melengkapi dengan budaya bangsa kita, namun bisa juga saling
berlawanan. Maka untuk dapat memilah manfaat positif dan meminimalisir sisi
negatif dari budaya luar, perlu adanya penguatan nilai-nilai lokalitas budaya
bangsa. Konsep konsentrisitas berkaitan tentang pentingnya mempertahankan dan
berpegang teguh pada budaya sendiri untuk memperkuat kepribadian nasional.
Selama ini kegiatan yang bertujuan memperkuat
budaya daerah memang dilakukan. namun hanya untuk momen-momen tertentu.
Selayaknya kegiatan seperti ini dilakukan lebih teratur dalam wadah kegiatan
mingguan.
Beberapa
hal yang sebelumnya yang juga biasa saya lakukan ternyata berlawanan dengan
konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Di antaranya:
1. Sebelumnya saya menganggap bahwa anak adalah
kertas putih bersih yang belum ada coretan apapun, Ki Hadjar Dewantara
berpendapat lain. Menurut pemikiran beliau, anak itu seperti kertas yang telah
memiliki pola masing-masing. Ada yang positif dan negatif. Hanya saja pola-pola
tersebut masih samar. Tugas pendidik adalah menuntun untuk memperjelas nilai-nilai
positif dan mengaburkan nilai-nilai negatif yang ada pada anak.
2. Pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan
yang berarti hanya tuntunan, menegaskan bahwa pendidik tidak punya kuasa untuk
menjadikan anak sesuai dengan apa yang diinginkan pendidik. Padahal yang sering
kali kita lakukan adalah memaksa anak untuk mengikuti yang kita mau.
3. Kita, kaum pendidik, juga sering kali menekankan
agar anak menguasai mata pelajaran yang kita ampu. Padahal masing-masing anak
memiliki potensi dan bakat yang beragam. Yang seharusnya kita lakukan adalah
menuntun anak untuk mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki.
Maka
sangat penting bagi pendidik untuk mengubah paradigma salah yang telah
dilakukan selama ini. Untuk berubah memang tidak mudah. Namun, tidak mudah
bukan berarti tidak mungkin. Dengan motivasi kuat untuk transformasi pendidikan
kepada yang lebih baik, kita akan punya kekuatan untuk merubah.
Link video: https://youtu.be/reA3KwITZnE

Beruntung saya dapat membaca Blog Bu Yenny; tulisan dan alur pemikirannya layak untuk diikuti oleh para guru terutama untuk guru yang bersemangat untuk menulis. Gaya bertutur yang sangat baik membuat "pemirsa" bisa duduk menyimak dengan baik dan mendapatkan kontennya tanpa memerlukan energi yang banyak; karena gaya yang dibawakan menyampaikan dengan "mendongengkan"; enak untuk dinikmati
BalasHapusSelamat! Terus berkarya, Tebarkanlah semangat Guru Penggerak...
RUKMANA
Terima kasih banyak Pak. Saya menjadi semakin termotivasi untuk menulis.
Hapus